Home Uncategorized GO INDONESIA KE ARIF BUDIMANTA JANGAN KELABUI RAKYAT PAKAI ISTILAH PANCASILANOMICS

GO INDONESIA KE ARIF BUDIMANTA JANGAN KELABUI RAKYAT PAKAI ISTILAH PANCASILANOMICS

77
0
SHARE

 

Jakarta (Jawaposonline.com ) Arif Budimanta meluncurkan buku Pancasilanomics, Jalan Keadilan dan Kemakmuran di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEJ), Jakarta (7/10/2019). Tetapi peluncuran buku tersebut mengundang kritik dari masyarakat luas, salah satunya Generasi Optimis (GO) Indonesia.

Arif diduga kelabui masyarakat dengan gunakan istilah “Pancasilanomics.” Meski ia mengaku Ekonomi Pancasila bukan anti-pasar, melainkan hadir untuk melindungi para pelaku ekonomi, kiritik tetap menghampiri dirinya.

Wakil Ketua Umum GO Indonesia, Frans Meroga, secara tegas mendesak Arif agar tidak menggunakan istilah “Pancasilanomics,” karena menduga ia lebih berpihak pada kapitalis ketimbang ekonomi kerakyatan/keumatan yang merupakan ekspresi dari nilai-nilai Pancasila. Selasa pagi, Jakarta (8/9/2019),

Frans mempertanyakan komitmen Arif dalam mengembangkan Ekonomi Pancasila. Ia mengatakan, “Katanya Ekonomi Pancasila, kok launching di BEJ? Kan jelas bursa efek itu identik dengan kapitalis, sedangkan Pancasila pada sila keempat menyuarakan kerakyatan dan musyawarah mufakat. Jangan pakai istilah Pancasilanomics-lah, launchingnya aja di tempat kapitalis. Jangan kelabui masyarakat!”

“Mana ada kapitalis bersedia musyawarah untuk mencapai mufakat? Yang ada selama ini winner takes all. Jangan kamuflase praktik kapitalis dengan balutan istilah Pancasila, ” tegas Frans.

Pakar koperasi itu menambahkan, “Katanya Ekonomi Pancasila, tapi kok tidak anti pasar? Padahal sila kelima kan menyatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

“Mana ada pasar bisa bikin adil? Yang ada ialah Pemerintah memang perlu terlibat minimal memproteksi yang lemah. Saya pikir Arif perlu belajar kepada Abah Kyai Ma’ruf Amin,” ujar Wakil Ketua Umum GO Indonesia itu kepada wartawan.

Frans menilai justru prinsip ekonomi kerakyatan KH. Ma’ruf Amin gagas adalah yang sesuai dengan prinsip Pancasila. Gagasan ekonomi Ma’ruf yang dikenal sebagai “The Ma’ruf Amin Way” itu dinilai lebih cocok dan memancarkan sinar keadilan, keumatan, dan kedaulatan.

Bagi Frans, prinsip Ekonomi Pancasila hanya bisa termanifestasikan secara nyata melalui pemberdayaan dan pengembangan koperasi. Karena koperasi bergerak dengan semangat mengutamakan kepentingan anggota. Tiap anggota koperasi berperan sebagai produsen dan konsumen. Dasar sukarela dan terbuka.

Prinsip pengelolaan dalam koperasi bertujuan untuk menumpuk laba guna kepentingan anggota, bukan segelintir orang atau pemilik modal (kapitalis).

Senada dengan jalan pikir Frans, Sekretaris Jendral (Sekjen) GO Indonesia Tigor Mulo Horas Sinaga, mengatakan Pancasilanomics versu Arif berbau kapitalis dan liberalisme.

“Pemilihan tempat launching bukunya aja di BEJ, itu menunjukkan kepada publik bahwa Pancasilanomics gagasan Arif Budimanta lekat dengan kapitalisme dan liberalisme. Itu tampak jelas,” tegas Horas.

“Sewaktu krisis moneter terbukti hanya ekonomi kerakyatan atau keumatan seperti koperasi yang secara gemilang membuktikan ketangguhannya melawan krisis ekonomi. Hanya koperasi yang yang sanggup bertahan dan tetap membangun negeri ini, bukan kapitalis yang berwujud korporasi-korporasi liberal di BEJ,” ujar pakar manajemen itu.

Arif Budimanta sendiri menulis bukunnya itu dalam kurun 8 tahun, sejak ia masih menjadi anggota DPR-RI. Namun ketika Arif melakukan penulisan ulang seiring dengan dinamika ekonomi dalam birokrasi.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ekonom Senior Indef Aviliani, dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda, turut hadir sebagai undangan dalam acara peluncuran buku di BEJ itu.(Bbg)