Home Nasional Sukses Dan Meriah!! Kongres Agama Khonghucu Internasional Digelar Oleh Majelis Tinggi Agama...

Sukses Dan Meriah!! Kongres Agama Khonghucu Internasional Digelar Oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Internasional (MATAKIN)

87
0
SHARE

JAKARTA -JawaPosOnline –Kongres Agama Khonghucu Internasional 2019, pada hari Senin (07/10/2019) digelar di Harriston Hotel & Suites Jalan Terusan Bandengan Utara Nomer 1, Penjaringan Pejagalan, Jakarta Utara, yang diinisiasi dan digelar oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Acara yang dihadiri sekitar 11 negara yakni, Indonesia, China Taipei, Mexico, Jepang, Tiongkok, Singapura, dan Malaysia ini, digelar dalam rangka peringatan Zhisheng dan 2570 (Hari Lahir Nabi Agung Kongzi ke 2570) Kongzili.

Turut menghadiri acara tersebut, Prof Dr KH Ma’ruf Amin selaku Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum MATAKIN Xs Budi Santoso Tanuwibowo, dan General Manager Hotel Harriston bapak Haris Chandra, beserta beberapa anggota MAKIN daerah seperti Js. Eeng Hefendi dari Kabupaten Bogor, Js. Andi Gunawan dari Semarang dan para tamu undangan lainnya.

Menurut Peter Lesmana, sekretaris bidang keorganisasian MATAKIN, “Acara Kongres Agama Konghucu Internasional ini digelar untuk membahas ajaran Agama Khonghucu dan nilai-nilainya yang berguna secara nyata dalam pengembangan ekonomi dan bisnis dalam suatu negara beserta kerjasamanya, dimana Indonesia sebagai tuan rumah kali ini dan mengundang beberapa negara tetangga.”.

“Acara ini merupakan lanjutan dari acara kemarin yang bertempat di sini (Hotel Harriston -red), yakni dialog bertajuk ‘Nilai-nilai Islam dan Khonghucu untuk Peningkatan dan Pengembangan Bisnis dan Ekonomi’ itu, melibatkan tokoh Islam dan Khonghucu, dimana pada hari minggu kemarin (06/10/2019), dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yakni Kelanjutan dari Dialog antar umat Islam -Khonghucu”, terang Peter Lesmana.

Ketua Chinese Association of Confucius yang juga Ketua Foundation, Kung Tsuichang, selaku Generasi ke-70 Konfusius garis utama penerus pejabat pemimpin upacara persembahyangan Nabi Besar Guru Pendahulu, dalam sambutan tertulisnya mengatakan, lebih dari 2.500 tahun lalu, leluhur Konfusius mendirikan Konfusianisme di Tiongkok.

Sambutan pertama dibuka oleh Ketua Panitia Ir. Ws. Wawan Wiratma dilanjut dengan Xs. Budi Santoso Tanuwibowo (Ketua Umum Dewan Rohaniwan Khonghucu Indonesia) memberi ucapan terima kasih pada tamu undangan atas kehadiran acara dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) yang mengadakan acara Dialog agama Islam dan Khonghucu yang telah dilaksanakan, dan Kongres Agama Khonghucu Internasional 2019 yang diikuti beberapa negara.
Meksiko, Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Menteri Agama Lukman Hakim Syarifudin dalam sambutan mengatakan “Tidak ada aturannya mencoba memutus antara vertikal dan horizontal dan memutus hubungan kepada Tuhan, itu sama sekali tidak diajarkan kepada sesama manusia” papar Lukman Hakim dalam sambutannya.

Kongres Agama Khonghucu Internasional di awali dengan pemukulan Bedug secara bersama dan penyerahan simbolis oleh Ketua Umum Budi.S.Tanuwibowo dengan KH Ma’ruf Amin sebagai bentuk toleransi keagamaan.

Js. Eeng Hefendi dari Kabupaten Bogor, ketika diwawancarai oleh JawaPosOnline.com mengatakan, “Saya selaku ketua MAKIN Kabupaten Bogor sangat mendukung sekali acara ini, dimana selaku umat beragama, yakni Khonghucu merasakan bahwa ajaran Khonghucu sangat tepat bila dikaitkan dengan peranan dan hubungan antara sesama manusia, khususnya bertoleransi antar umat beragama.”

“Dalam hal ini, sudah selayaknya hubungan antar umat beragama didasari oleh landasan hubungan baik yang telah diajarkan dalam ajaran agama Khonghucu.”, terang Eeng pada awak media.

“Adapun kegiatan dan aktivitas nyata yang sudah terlaksana oleh umat Khonghucu di wilayah kabupaten Bogor adalah adanya diskusi nyata dengan masyarakat, dimana afiliasi budaya sudah terjadi dan menjadi keberagaman budaya dan agama yang sangat erat hubungan antar umat beragama, dimana meminjam istilah dari umat beragama Islam, dimana tali silaturahmi antar umat beragama yang kami telah jalin dengan sesama umat beragama lain, sebab afiliasi dan akulturasi budaya sudah banyak terjadi dan menjadi hal yang nyata, dimana terdapat seseorang yang beragama Khonghucu, namun agama dari pihak orangtuanya, kakek, buyut dan leluhurnya bukan dari agama Khonghucu, tapi dari agama lain, dimana hal tersebut dapat terjadi dari proses akulturasi budaya akibat pernikahan dengan seseorang yang beragama Khonghucu.”, terang Eeng.

“Sudah selayaknya Kongres Internasional Agama Konghucu ini turut dijadikan sebagai agenda rutin yang secara komprehensif membahas dan mengupas tuntas agama Khonghucu, dimana Khonghucu baru mulai tampak eksistensi dan keberadaannya di era Gus Dur, dan semoga di pemerintahan Jokowi selaku Presiden Indonesia, peranan umat agama Khonghucu dapat mempererat hubungan positif dan koheren dengan sikap saling toleransi dengan umat agama lainnya.”, pungkas Eeng mengakhiri sesi wawancara.