Home Regional Berikut Penjelasan Profesor Kanjeng Ihwal Insan Pers Terlahir dari Ormas Abal-abal

Berikut Penjelasan Profesor Kanjeng Ihwal Insan Pers Terlahir dari Ormas Abal-abal

189
0
SHARE

(Foto: Fachruddin Kanjeng Sulton Mego Sakti dari Bandar Lampung, Ist)

JAKARTA– Dewasa kini banyak sekali insan pers yang selalu mengatasnamakan wartawan padahal background/latar belakang dan pemikirannya harus diselidiki lagi.

Memang hakikinya, latar belakang insan pers tersebut bebas, namun mengenai dapat mempublikasikannya, menurut Kanjeng Faachruddin selaku pemimpin umum tabloid Pikiran Bangsa yang akrab disapa profesor kanjeng ini, mengutarakan bahwa Insan pers yang terlahir dari ormas-ormas yang tidak jelas sudah banyak sekali di negeri ini, tragisnya, bahkan tidak mengerti apa itu arti pers yang sesungguhnya.

“Kalo soal mempublikasi semua orang sudah punya medsosnya masing-masing baik FB, Istagram, twitter, wa dan sebagainya, hanya saja pemikiran mereka adakah sejatinya seorang Intelijen,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan telepon, Jakarta, sabtu(24/8)

Perihal tentang Inteligen masyarakat dunia yang dimaksudnya tersebut ialah, Intelektual Genius masyarakat dunia. “Bila saja dia background dari ormas gak jelas maka dia akan bentuk suatu komunitas layaknya suatu ormas, padahal pers itu sendiri sifatnya menkonfirmasi dan mempublikasi dan tak sempat mereka buka-buka ormas di kalangan pers,” ungkapnya.

Soal organisasi di kalangan pers tersebut ada baiknya para pelaku nya yang sudah senioran namun tidak lagi selaku insan pers pencari berita, cukup sebagai pemberi wadah di kalangan jurnalis, reporter dan wartawan, untuk mengayomi serta menjaga.

“Bagi siapapun tak berhak seorang pers untuk mem-protec(menghalangi) si wartawan mau berelasi sama siapapun, sebab hal itu tabuh bagi para pekerja kuli tinta,” ungkapnya lagi.

Sekarang ini sudah menjamur para insan pers, parahnya, para awak media yang terlahir dari ormas tidak jelas berlakukan sistem aturan mainnya sendiri seperti yang di komunitas ormasnya terdahulu, “Seakan-akan komunitas pers itu sama halnya seperti yang di ormas nya terdahulu,” paparnya lagi.

“Apakah itu yang dinamakan Intelijen masyarakat dunia?,” imbuhnya dengan nada bertanya.

Untuk segera diketahui, bila saja ada oknum pers yang melakukan sistem seperti itu hendaknya langsung dipertanyakan keberadaannya, apakah dia itu sejatinya pers yang mengerti akan dunia jurnalis ataukah dia hanya sebatas ikut-ikutan saja? Agar ditakuti dan disegani.

“Perlu kalian ketahui semua pers itu sifatnya mengkonfirmasi dan mempublikasi, adapun investigasi itupun tetap ada aturan mainnya sendiri, apakah sipembicara masih mau lanjut atau tidak saat dipertanyakan hal yang dia tidak mau jawab, sebab hal itu, adalah suatu terkait tentang HAM, investigasi yang lebih mendalam dan harus dijawab itu domain ranah nya penyidik dan sejenisnya sesuai dengan tupoksinya, bukan ranahnya insan pers, bila si nara sumber tidak menjawab dari pertanyaan si jurnalis itu adalah hak nya si narsum bukan hak si wartawan,” pungkasnya.

Si wartawan cukup menuliskannya. “Seperti ini contohnya, saat ditanyakan tentang suatu kasus, namun si A tidak memberi jawaban apapun, lalu ada baiknya jurnalis cukup mempublikasikan nya dan mengungkap nya ke publik melalui publikasi media nya, bahwasanya si narsum saat di konfirmasi tidak memberikan jawaban apapun, saat dipertanyakan, Nah seperti itulah kira-kira gambarannya,” ujar Fachruddin dengan mencontohkannya.

Sebabnya, tentang kode etik jurnalis itu perlu juga diketahui para insan pers yang terlahir dari produk ormas abal-abal, agar tidak salah dalam menjalankan profesinya. Pembicara oleh Kanjeng Sulton Mego Sakti dari Bandar Lampung. (*)

Penulis: Bart/Editor: Jpoc