Home Politik Oknum Polisi Tembak Mati Peserta Aksi 2122 Mei

Oknum Polisi Tembak Mati Peserta Aksi 2122 Mei

280
0
SHARE

Bunga Duka Anak Rantau Pontianak Untuk Korban Aksi 2122 Mei

Jakarta – Belum usai ungkap persoalan jatuhnya 690 lebih korban tewas Petugas KPPS, kini jatuh lagi korban tewas yang diduga belasan jiwa tertembus peluru dan terkena gas air mata saat terjadi bentrokan massa aksi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) dengan Aparat Kepolisian pada 21 – 22 Mei 2019 di sekitar Bawaslu, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Beredar flyer / meme di media sosial, bahwa Pilpres 2019 di sebut sebagai “Tragedi Berdarah Pilpres 2019”. tulisan dalam gambar yang viral di medsos ini menjadi perhatian banyak kalangan pegiat medsos karena memiliki makna yang dalam dan menggambarkan situasi betapa parah dan kacaunya pelaksanaan Pemilu 2019, bahkan mungkin sebagai Pemilu terburuk sepanjang Negara Indonesia ini terbentuk dengan korban tewas terbanyak (KPPS)

Berkaitan dengan itu nampak ratusan relawan “Tolak Pemilu 2019 Curang” gelar acara tabur bunga, baca doa bagi para korban tewas dalam tragedi bentrokan 2122 Mei 2019. Para relawan letakkan karangan bunga yang bertuliskan “Matinya Demokrasi, Turut Berduka Cita Para Pahlawan Demokrasi, Turut Berduka Para Mujahit Syuhada, dll”.

Selain gelar tabur bunga, para relawan juga membagikan snack, makan, minum untuk buka puasa kepada para pejalan kaki, supir taxi, ojeg online, dll, yang lalu lalang dan berkumpul melihat jalannya acara di perempatan jl. Sabang – Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat 24/5/2019.

Nampak banyak masyarakat umum mengabadikan / selfie di depan karangan bunga duka cita para korban tewas tertembak oknum Polisi. Tak jarang juga nampak pengunjung berdoa didepan karangan bunga untuk para korban tewas dan yang masih dirawat.

Karangan bunga duka yang berjajar diletakkan di trotoar persis di samping Kantor Kemetrian Pertanahan, perempatan Jl. Sabang – Wahid Hasyim, Jakpus. Bunga duka datang dari berbagai elemen masyarakat, antara lain KOBAR, RUMAH PERJUANGAN RAKYAT, GL PRO, Masyarakat Rantau Pontianak, Perantau Kalimantan Barat, dll.

Aktivis era tahun 80an Wawan Leak, yang dijumpai di tempat acara mengatakan
prihatin, bahwa di pemilu 2019 banyak jatuh korban jiwa, baik dari petugas KPPS maupun korban jiwa aksi demo super damai tolak pemilu curang 21-22 Mei 2019 kemaren.

“Katanya demokrasi, tetapi nyatanya terbalik, kita mencoba dengan berbagai elemen aliansi untuk memberikan tanggungjawab moral, karena kami prihatin dan menangis melihat kondisi bangsa ini,” tutur Wawan di Jakarta, Jum’at 24/5/2019.

Wawan juga meminta segera dibentuk tim investigasi Independen, karena banyak sekali sesuatu yang intensif macam-macam pihaknya dituduh makar, dituduh ini dan itu, hingga di tangkap, dll. Itu hak prerogatifnya Polisi, tapi jangan juga kita tidak diberikan hak untuk membela diri, dengan kondisi sekarang mau nggak mau sudah pasti dicap makar, mau nggak mau kita dicap intoleransi yang luar biasa.

“Saya melihatnya ini demokrasi Barbar, demokrasi Barbar ini demokrasi yang di design. Kebetulan saya aktivis 80, para elit politik republik ini ataupun siapa saja tokoh agama tokoh masyarakat kita mesti duduk satu meja, coba kita buat semacam aliansi banyak tokoh-tokoh ini dan itu, kebetulan disini juga ada mas Saiful dari Jawa Timur,” terangnya.

Lanjut Wawan, dari beberapa elemen-elemen sudah meminta pihaknya menyikapi tentang kondisi demokrasi barbar ini. “Tentunya juga pertemuan kami punya komitmen bagaimana mencari solusi tentang kondisi Republik bukan, kita bicara bukan 01 atau 02, tetapi ini tentang komitmen anak bangsa dan Negara.

“Jokowi jelas, dialah yang harus bertanggungjawab, karena Jokowi pegang kendali tertinggi sebagai Presiden saat ini sebelum adanya penetapan SAH Presiden baru.

Siapapun Presidennya bagi kami bukan hal penting, hanya menurut Wawan, yang jadi masalah adalah kecurangan pemilu yang memang terlihat terstruktur, sistemik dan masive (TSM).(Bb)