Home Nasional Komunitas Alumni PT Jakarta Raya Menggelar Diskusi Islam Di Indonesia Under Attack

Komunitas Alumni PT Jakarta Raya Menggelar Diskusi Islam Di Indonesia Under Attack

45
0
SHARE
Foto : Erwin
Jakarta, Media Indonesia Raya – Dalam beberapa tahun terahir, banyak opini bertebaran yang menyatakan bahwa umat Islam sedang mengalami penindasan. Opini tersebut dibentuk melalui narasi, khususnya di media sosial, yang direproduksi terus menerus dengan tujuan menciptakan opini publik bahwasannya umat Islam memang benar-benar tertindas. Padahal, kenyataanya belum tentu demikian bahkan sama sekali tidak sesuai dengan fakta.

Lebih ironi lagi, kelompok yang seringkali memproduksi dan menyebar narasi tersebut hanya kelompok kecil umat Islam yang dengan lantangnya menyuarakan atas nama Islam secara keseluruhan. Tentu saja, tanpa bisa dipungkiri, munculnya narasi-narasi tersebut secara tidak langsung bisa merusak kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk menyikapi masalah tersebut Komunitas Alumni Perguruan Tinggi Jakarta Raya Menggelar Diskusi Public : Islam Di Indonesia Under Attack, Benarkah ? di Munik Resto, Jl. Matraman No. 80-82, Jakarta Timur, Senin (2/7).
 
Pada acara diskusi ini dihadiri para narasumber Kasino yang merupakan Aktivis Gerakan 98 dan Dr. Imdadun Rahmat, M.Si, yang sehari -hari menjabat sebagai Direktur SAS Institute, dan Pengajar Studi Terorisme Pasca Sarjana UI. 
 
Dr. Imdadun Rahmat, M.Si, mengatakan bahwa ada narasi yang dikembangkan bahwa Islam Under Attack.
“Digambarkan Islam itu diserang, ditindas, didholimi oleh Yudeo-Kristen. Dimana Yudeo-Kristen didukung negara-negara Barat. Ada juga dikembangkan narasi lainnya yaitu dibenturkan antara Islam vs Barat,” katanya.
Selain itu menurutnya narasi Islam Under Attack ini dikembangkan oleh musuh-musuh Islam dalam bentuk serangan fisik (agresi militer) maupun serangan ideologi.
“Narasi lainnya adalah dimunculkan adanya Musuh Islam yang dibantu agen-agen lokal berupa Tokoh, LSM, Ormas Islam Sekuler, Liberal, Pluralis, dan Pemerintah Toghut. Selain itu ada lagi pemikiran bahwa Pemerintah Jokowi itu anti Islam. Kemudian diisukan juga bahwa Ulama mengalami kriminalisasi dan ini yang lebih sering didengungkan bahwa Pemerintah pro “Asing” dan “Aseng”,” jelasnya.
 
Imdadun Rahmat mengungkapkan bahwa narasi Islam Under Attack ini memiliki tujuan untuk menyebarkan kekhawatiran, rasa ketidakadilan, kemarahan dan keputusasaan. 
 
“Tujuan narasi ini dikembangkan untuk menanam kebencian terhadap pihak musuh, sekaligus fanatisme agama dan kelompok. Tujuan lainnya dukungan terhadap perlawanan dan kekerasan dengan membangun simpati kepada Terorisme. Jadi narasi Islam Under Attack ini sengaja dikontruksi bukan berdasar realita atau kenyataan yang ada saat ini,” tambahnya.
 
Sedangkan Kasino mengatakan bahwa ada segelintir atau sekelompok radikal  dari umat Islam yang menganggap dirinya paling benar dan harus didengar.
“Mereka menganggap diri mereka yang paling benar.  Mereka paling getol untuk mengkafirkan orang-orang diluar mereka. Saya saja dibilang kafir karena tidak sejalan dengan ideologi mereka. Selain itu anak-anak kecil di Indonesia sudah diajarkan menthogutkan Pemerintah terutama polisi, sehingga mereka benci dan harus diperangi,” imbuhnya.
Menurutnya untuk mengatasi isu radikalilasi ini perlu perhatian dari semua pihak tidak cukup Pemerintah saja.
“Ideologi Radikalisme harus dilawan semua pihak, tidak cukup hanya Pemerintah. Peranan seluruh komponen masyarakat di Indonesia sangat diperlukan untuk melawan Radikalisme dan Terorisme,” tandasnya. (Erwin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here